top of page

News Title

Buah Jatuh Tidak Jauh dari Pohonnya

Hakim-hakim 9

2024-06-25

Peribahasa ”Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya” menggambarkan kemiripan antara orang tua dan anaknya, baik dalam hal sifat, tingkah
laku, maupun kebiasaan. Bukankah orang-orang di sekitar kita sering kali berkata, “Anak itu mirip betul dengan papanya (atau mamanya).” Bila kesamaan itu menyangkut hal yang baik, kita akan merasa senang mendengar perkataan seperti itu. Akan tetapi, apakah peribahasa di atas 100% benar? Tidak! Kadang-kadang, kita bisa menemukan anak-anak yang cara hidupnya bertolak belakang dengan orang tuanya. Keadaan seperti itu terdapat dalam bacaan Alkitab hari ini yang membicarakan tentang Abimelekh, anak dari Yeruba’al—atau Gideon—dari gundiknya yang tinggal di Sikhem (7:1; 8:31)
Setelah membebaskan orang Israel dari penjajahan bangsa Midian, Gideon menolak untuk berkuasa atas orang Israel. Sayangnya, setelah Gideon meninggal, orang Israel melupakan pertolongan TUHAN dan jasa Gideon, lalu mereka kembali hidup menyimpang di hadapan TUHAN (8:33-35). Keinginan Abimelekh untuk berkuasa penuh sebagai raja atas bangsa Israel membuat ia membunuh 70 anak Gideon—yang merupakan saudara-saudara tirinya—di Ofra (9:5-6). Abimelekh mengira bahwa rencananya pasti akan berhasil dan tidak ada yang mampu menghalangi keinginannya untuk menjadi raja. Akan tetapi, Abimelekh lupa bahwa keinginan dan tindakannya itu merupakan kekejian di mata TUHAN, sehingga sebenarnya, Abimelekh sedang berhadapan dengan TUHAN. Di ayat 23, Allah membangkitkan rasa permusuhan antara Abimelekh dan warga kota Sikhem, sehingga warga kota Sikhem mengkhianati Abimelekh, Di ayat 56, Allah membalas kejahatan Abimelekh yang telah membunuh 70 saudaranya itu. Tuhan tidak tinggal diam dan tidak membiarkan Abimelekh terus hidup dalam kejahatan untuk mempertahankan kekuasaannya karena tindakan Abimelekh merupakan kekejian di mata Tuhan.
Setiap orang tua pasti memiliki keinginan yang baik bagi anak-
anaknya. Oleh karena itu, orang tua akan menyekolahkan anak-anaknya agar anak-anaknya memiliki masa depan yang baik. Tindakan ini baik. Akan tetapi, kita perlu menyadari bahwa anak-anak kita adalah manusia berdosa yang membutuhkan Juruselamat untuk keselamatan mereka. Sebagai orang tua, kita wajib memperkenalkan anak-anak kita kepada Tuhan agar saat kita tidak bersama-sama dengan mereka, mereka yang telah mengenal Tuhan akan tetap hidup dalam takut akan Tuhan seumur hidup mereka. Apakah Anda pernah membimbing anak-anak Anda untuk menjalin relasi dengan Tuhan?

bottom of page