top of page

News Title

Memperhatikan Orang Miskin

Ulangan 15

2024-04-20

Bacaan Alkitab hari ini membahas hukum tentang pembebasan utang pada tahun Sabat (15:1-11), pembebasan budak setelah enam tahun (15:12-18), dan pemisahan anak sulung jantan dari hewan ternak untuk dikuduskan bagi Tuhan (15:19-23). Pada masa kini, peraturan ini sudah tidak kita laksanakan. Sekalipun demikian, ada prinsip-prinsip dalam hukum-hukum tersebut yang masih relevan bagi kehidupan kita saat ini.
Pentingnya pasal ini terlihat dari fakta bahwa dalam pasal ini, kata
“engkau harus” adalah kata yang berbentuk imperatif (perintah).
TUHAN menghendaki agar orang Israel tidak memperbudak sesama orang Israel selamanya, sehingga Ia menetapkan Tahun Sa- bat atau Tahun Ketujuh sebagai tahun pembebasan utang sepenuh- nya. Sekalipun utang hanya berlaku sampai tahun keenam, saat mendekati tahun Sabat pun, mereka tidak boleh menolak untuk memberi pinjaman, walaupun pinjaman itu bisa membuat pemberi pinjaman menjadi rugi banyak. Dengan adanya hukum tentang Tahun Sabat ini, orang Israel yang miskin mendapat kesempatan untuk terbebas dari utang dan perbudakan, serta bisa memulihkan kembali perekonomian rumah tangga mereka.
Asas penting yang hendaknya mengatur tanggapan terhadap kebutuhan manusia adalah asas kepedulian terhadap saudara- saudari kita. Kata “saudara” muncul beberapa kali dalam 15:1-12. Orang Israel harus memastikan bahwa tidak ada orang yang miskin secara permanen di antara bangsa mereka sendiri. Bila kita hendak menerapkan asas kepedulian ini pada masa kini, kita harus memandang komunitas anggota gereja sebagai prioritas yang paling kita pedulikan (lihat Galatia 6:10). Gagasan bahwa kebutuhan sesama anggota gereja kita merupakan tanggung jawab kita terdengar aneh dalam budaya individualistis yang meyakini bahwa setiap orang bertang- gung jawab atas kebutuhannya sendiri dan tidak perlu memedulikan kebutuhan orang lain. Jelas bahwa gaya hidup menurut Alkitab sangat berbeda dengan gaya hidup masyarakat di sekitar kita. Perbedaan ini merupakan tantangan bagi pelaksanaan tanggung jawab gereja terhadap dunia ini. Solidaritas komunitas Kristen membuat kita berbeda dengan orang-orang di sekitar kita, dan bisa menjadi pintu masuk bagi berita Injil, terutama bagi orang-orang yang membutuhkan perhatian dan ban- tuan. Pada tahun-tahun awal berdirinya gereja Kristen, pihak luar sangat terkesan dengan cara hidup umat Kristen yang saling memperhatikan. Seorang filsuf Kristen berkata, “Roti bagi diri saya adalah masalah materi. Roti bagi tetangga saya adalah masalah rohani.” Apakah Anda sudah hidup dengan memperhatikan orang lain?

bottom of page