top of page

News Title

Tuhan Tidak Menunggu

Hakim-hakim 13

2024-06-29

Perkataan “orang Israel melakukan pula apa yang jahat di mata TUHAN” merupakan ungkapan yang sering muncul dalam Alkitab. Umat Israel sudah sangat sering menyakiti hati TUHAN, baik melalui perkataan yang menyalahkan TUHAN maupun melalui tindakan yang mendua hati dengan menyembah patung berhala. Sejak zaman Nabi Nuh, “TUHAN melihat betapa besarnya kejahatan manusia di bumi, dan segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata- mata.” (Kejadian 6:5). Inilah kondisi umum manusia berdosa, termasuk
kondisi umat Israel.
Puji Tuhan! Di tengah cara hidup orang Israel yang jahat, Malaikat TUHAN berkenan datang untuk memberi kabar kepada Manoah—dari keturunan suku Dan—bahwa istrinya yang mandul itu akan mengandung, sehingga Manoah akan mempunyai anak. Anaknya itu akan menjadi seorang nazir Allah, dan ia akan menyelamatkan umat Israel dari tangan orang Filistin (13:5). Nama anak ini adalah Simson.
TUHAN mengetahui bahwa orang Israel telah melakukan tindakan jahat, dan TUHAN mengizinkan orang Filistin menindas orang Israel. Sekalipun demikian, tanpa menunggu orang Israel menghentikan tindakan jahatnya, TUHAN sudah mempersiapkan Simson untuk menjadi nazir Allah, sekaligus menjadi hakim saat orang Israel masih terus melakukan tindakan jahat di mata TUHAN. Tindakan Allah mempersiapkan seorang hakim untuk membebaskan umat-Nya dari penjajahan bangsa Filistin itu merupakan anugerah Allah. Tindakan Allah ini disebut anugerah karena Allah berbelas kasihan dan bersedia menolong tanpa menunggu umat Israel berubah lebih dulu. Saat umat Israel belum berpikir untuk berubah dari perbuatan jahatnya, TUHAN sudah lebih dahulu menyiapkan jalan pembebasan.
Sikap Tuhan terhadap umat Israel menyerupai sikap Tuhan pada diri kita, “Namun, Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita dalam hal ini: Ketika kita masih berdosa, Kristus telah mati untuk kita.” Allah memberi keselamatan tanpa menunggu kita sadar dan bertobat lebih dahulu. Inilah Anugerah Allah bagi kita! Kita—yang seharusnya menerima murka Allah—mendapatkan keselamatan melalui Tuhan Yesus yang mati di kayu salib. Apa yang seharusnya kita lakukan sebagai respons terhadap Anugerah Allah tersebut? Apakah Anda sudah berusaha mempersembahkan hidup Anda kepada Allah untuk memuliakan Dia? Apakah Anda sudah bersandar kepada tuntunan dan hikmat Allah agar bisa hidup sesuai dengan keinginan Allah?

bottom of page