top of page

News Title

Akhir Lebih Penting Daripada Awal

1 Samuel 31

2024-08-15

Kebanyakan orang akan merasa puas ketika menyaksikan sebuah film yang berakhir dengan happy ending. Hal ini berbeda dengan akhir
cerita di Kitab 1 Samuel. Ternyata Saul—raja Israel—dan ketiga anaknya—yaitu Yonatan, Abinadab dan Malkisua—mati di tangan orang Filistin. Kematian Saul sangat tragis: Kepalanya dipenggal dan diarak keliling dari satu kota ke kota Filistin lainnya sebagai kabar baik bagi rakyat dan dewa mereka. Kemudian, kepala Saul digantung di kuil Dagon, dekat tembok kota Bet-Sean (31:10; 1 Tawarikh 10:9-10). Kitab 1 Samuel ditutup dengan unhappy ending: Israel mengalami kekalahan besar di pegunungan Gilboa. Hukuman TUHAN terhadap Saul amat hebat, “Demikianlah Saul mati karena ketidaksetiaannya kepada TUHAN, sebab ia tidak memelihara firman TUHAN dan juga bertanya kepada arwah untuk meminta petunjuk, dan tidak meminta petunjuk TUHAN. Sebab itu TUHAN membunuh dia dan menyerahkan jabatan raja kepada Daud anak Isai.” (1 Tawarikh 10:13-14).
Di tengah kedukaan atas kematian Saul yang tragis, setidaknya ada sedikit penghiburan yang Tuhan berikan kepada kita. Tuhan memberi anugerah-Nya dan tidak membiarkan raja pertama Israel diperlaku- kan secara tidak hormat. Ketika mendengar berita kematian Saul, penduduk Yabesh-Gilead—kota yang pernah diselamatkan oleh Saul dari tangan bangsa Amalek (1 Samuel 11)—berjalan semalam-malaman tanpa henti untuk mengambil mayat Saul dan anak-anaknya, lalu membakar mayat-mayat itu, kemudian mayat-mayat tersebut dikuburkan di bawah pohon Tamariska di Yabesh (31:11-13). Di kemudian hari, Daud mengambil tulang-tulang Saul dan Yonatan dari Yabesh-Gilead untuk dibawa ke tanah Benyamin dan dikuburkan bersama dalam kubur Kish, ayah Saul (lihat 2 Samuel 21:12-14).
Akhir kehidupan Saul memberikan pembelajaran yang penting bagi kita, yaitu: Pertama, Saul seolah-olah dekat dengan Tuhan dan melakukan praktik keagamaan, tetapi ia tidak sungguh-sungguh menge- nal Tuhan. Kedua, Saul tidak pernah belajar untuk bertobat. Berkali-kali ia menyatakan bahwa dia menyesal, tetapi perilakunya tidak berubah. Sikap seperti ini merupakan sebuah pertobatan dan dukacita yang palsu. Ketiga,. Saul mati dalam keberdosaannya. Kematian yang paling tragis adalah kematian tanpa Tuhan. Sangat disayangkan bahwa Saul yang mengawali kepemimpinannya dengan baik, mengakhirinya dengan tragis. Mengakhiri lebih penting daripada mengawali (Pengkhotbah 7:8; 2 Timotius 4:7-8). Bagaimana Anda ingin menuliskan kisah akhir hidup Anda? Pilihan Anda saat ini akan menentukan akhir hidup Anda!

bottom of page