top of page

News Title

Berdalih untuk Pembenaran Diri

1 Samuel 13

2024-07-26

Televisi analog umumnya memakai antena yang diarahkan pada posisi yang tepat untuk menangkap frekuensi gambar dan suara dengan
jelas. Pada awal pemerintahan raja Saul selama dua tahun pertama, ia memimpin dengan baik dan rendah hati. Ia bertanggung jawab dan mengandalkan Roh Allah. Saul adalah sosok pemimpin yang baik, ia mengarahkan antena hatinya kepada frekuensi TUHAN. Sayangnya, mulai pasal 13 dan berlanjut pada pasal-pasal berikutnya, Saul mengarah- kan antena hatinya ke frekuensi yang lain, padahal TUHAN telah memberi Saul semua yang dia perlukan untuk berhasil. Saul jatuh oleh pilihan dan keputusannya sendiri yang salah. Mengapa Saul gagal dalam menaati perintah TUHAN? Ia gagal karena TUHAN tidak menjadi Penguasa dalam kehidupannya. Setiap orang percaya harus mengarahkan hatinya kepada Kristus agar dapat memahami dan melakukan segala perintah firman-Nya dengan benar.
Kasus yang dialami Saul saat menghadapi bangsa Filistin bukanlah masalah yang mudah. Mungkin saja, ada orang yang beranggapan bahwa tindakan Saul itu wajar—atau sudah semestinya—dilakukan oleh seorang pemimpin. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa banyaknya pasukan Filistin seperti pasir di pantai, sedangkan pasukan Israel hanya enam ratus orang. Tidak mengherankan jika Saul dan pasukannya mengalami ketakutan yang luar biasa. Lagi pula, Samuel yang ditunggu-tunggu tidak kunjung tiba di Gilgal. Oleh karena itu, Saul mengambil keputusan sen- diri untuk mempersembahkan kurban bakaran dan kurban keselamatan. Saat Saul selesai mempersembahkan kurban bakaran, Samuel datang dan menegur Saul, "Sungguh bodoh tindakanmu itu! Engkau tidak menaati perintah TUHAN, Allahmu, yang dititahkan-Nya kepadamu." (13:13). Samuel memberitahu Saul bahwa kerajaannya tidak akan tetap karena Allah akan mengganti dia dengan seseorang yang berkenan di hati-Nya untuk menjadi raja atas umat-Nya (13:14). Saul membuat keputusan yang bodoh dan tidak bijaksana serta mencoba menutupi ketidakta- atannya dengan kebohongan. Saul gagal menaati Allah, sehingga ia menjadi tidak berkenan di hati Allah.
Terkadang, kita mungkin bertindak seperti Saul. Kita berdalih mencari pembenaran dan menutupi dosa (bandingkan dengan Lukas 16:15). Ketika menghadapi berbagai persoalan hidup, kita tidak sabar menunggu jawaban Tuhan, sehingga kita mencari dan menempuh jalan kita sendiri. Apakah Anda mengarahkan antena hati Anda pada Tuhan saat terjepit oleh situasi sulit? Janganlah Anda berdalih untuk mencari pembenaran diri!

bottom of page