top of page

News Title

Inkonsistensi: Benih Penghancuran Diri

1 Samuel 14 : 24-52

2024-07-28

Pemimpin yang bijaksana akan mempertimbangkan segala sesuatu dengan saksama sebelum mengambil keputusan. Ia tidak akan
gegabah dalam membuat keputusan, apalagi untuk hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan orang banyak. Sangat menarik bahwa ayat 23 mengatakan, “TUHAN menyelamatkan orang Israel pada hari itu.” Kemudian, ayat 24 memberitahu bahwa orang Israel terdesak. Mereka berada dalam kesusahan pada hari itu. Apa yang terjadi dengan kepemimpinan Saul? Di satu sisi, TUHAN membawa kemenangan. Di sisi lain, Saul membawa kesusahan. Ketika Saul memberontak kepada Allah, hatinya dikendalikan oleh kesombongan, kebodohan, dan tipu daya. Dia berusaha membuat orang lain terkesan pada dirinya. Dia tampak seperti memiliki spiritualitas yang baik, tetapi sebenarnya dia berjalan jauh dari Tuhan. Saat bangsa Israel terdesak, Saul memerintahkan seluruh pasukannya untuk mengucapkan sumpah yang mengandung kutukan, yaitu bahwa mereka tidak boleh makan apa pun sampai malam hari dan harus fokus mengalahkan dan mengejar orang Filistin. Sumpah ini seperti memperlihatkan bahwa Saul bergantung kepada Tuhan untuk mencapai kemenangan. Akan tetapi, sumpah untuk tidak makan ini tidak tepat waktu karena menyusahkan pasukannya sendiri, bahkan sumpah itu hampir mencelakai anaknya—Yonatan— yang memakan madu di hutan (14:27).
Bagi Yonatan, apa yang telah dilakukan ayahnya justru merupakan sumber masalah yang serius bagi bangsa Israel karena seluruh pasukan Saul kelaparan sehingga sengaja melanggar perintah Tuhan dengan memakan daging binatang jarahan yang masih mengandung darah (14:32
-33; bandingkan dengan Kejadian 9:4; Imamat 7:26-27; Ulangan 12:16, 23; 15:23). Seharusnya, pelanggar sumpah harus dihukum mati, tetapi Saul tidak menghukum mereka. Saul adalah pimpinan yang inkonsisten. Ia juga tidak mau mengaku salah (14:40-44). Keputusan Saul yang inkonsisten menjadi benih yang menghancurkan dirinya dan bang- sanya. Tanpa berkat Tuhan atas kita, kita bisa melakukan hal-hal bodoh yang menyebabkan hidup kita berantakan.
Saul memukul kalah semua musuh Israel, di antaranya Moab, bani Amon, Edom, Amalek, Filistin, dan raja-raja negeri Zoba (14:47). Catat- an ini terlihat cukup baik. Tetapi ada hal yang hilang dari ringkasan ini, yaitu tidak ada satu pun penyebutan tentang Tuhan, padahal kemenangan Saul bukan karena kehebatan dirinya, melainkan karena Tuhan ingin membebaskan umat-Nya. Israellah yang Tuhan kasihi. Apakah hati, pikiran, perbuatan, perkataan, dan seluruh hidup Anda makin terarah untuk mengikut Kristus secara konsisten?

bottom of page